Jumat, 06 Februari 2009

Anak Gunung Kelud Semburkan Gas Beracun

Kediri - Hampir satu tahun setengah nyaris tanpa aktifitas vulkanik berbahaya, Gunung Kelud kembali bergeliat. Kubah lava, atau yang biasa disebut anak gunung itu dikabarkan menyemburkan gas beracun. Akibat dari semburan gas beracun tersebut, radius 250 meter dari puncak gunung dinyatakan tertutup untuk umum.

Informasi yang dihimpun KJPL, semburan gas beracun tersebut tampak dengan keluarnya asap putih kecoklatan dari sekitar kubah lava. Gumpalan asap tersebut memiliki luas sekitar 100 meter persegi.

"Dari pantauan petugas di lapangan memang saat ini itu ada. Tapi memang pada dasarnya, setiap gunung api yang masih aktif memiliki gas beracun yang bisa berbahaya bagi manusia, dengan melihat konsentrasinya," kata Kepala Pusat Vulaknologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Surono, saat dikonfirmasi lewat telepon selulernya, Jumat (6/2/2009).

Dari hasil pantauan petugas PVMBG juga didapatkan kepastian, jika semburan gas beracun berupa gumpalan asap tersebut mengandung zat belerang dengan kadar di atas rata-rata.

Semburan gas beracun tersebut, masih menurut pantauan petugas PVMBG, terjadi akibat kondisi cuaca buruk yang akhir-akhir ini terus berlangsung.

"Pada kondisi normal gas beracun itu kan tidak mudah menguap. Tapi karena kondisi mendung dan sinar matahari sangat sedikit, maka gas tersebut tampak menguap ke permukaan," jelas Surono.

Dengan semburan gas beracun tersebut, PVMBG saat ini masih tetap memberlakukan status waspada. Selain itu, pemerintah daerah setempat juga diminta melakukan peningkatan pengawasan dan tetap melakukan koordinasi dengan pihak terkait.

Sementara itu, informasi yang didapat dari Pos Pengamatan Gunung Kelud Margomulyo, di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri menyebutkan, aktifitas Gunung Kelud juga tampak mengalami peningkatan.

Tercatat di seismograf, sampai pukul 17.00 WIB telah tercatat 5 kali gempa vulkanik dalam, 17 kali gempa vulkanik dangkal, 13 kali gempa hembusan, 12 kali gempa guguran, 10 kali gempa tremor, 146 kali gempa tektonik jauh, 8 kali gempa tektonik lokal, serta 94 kali gempa low frequensi. (KJPL)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar