Selasa, 26 Oktober 2010

Merapi Bisa Muntahkan Material 7,5 Juta Meter Kubik

Yogyakarta - Material di atas puncak Merapi masih tersisa sedikitnya 7,5 juta meter kubik. Material itu merupakan sisa-sisa kubah yang terbentuk pada 1911, 1997 dan 2006. Tumpukan kubah pada 1911 merupakan yang paling tua, sehingga paling rentan runtuh karena dorongan magma.

”Kubah tahun 1911 itu di atasnya ada kubah tahun 1997 dan 2006, jika yang paling tua itu runtuh maka semuanya ikut runtuh,” kata Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi saat ditemui di Kantor Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta, Selasa (26/10).

Ia berharap robohnya kubah-kubah itu tidak sekaligus, tetapi bertahap, sehingga tidak terlalu membahayakan. Jika guguran kubah itu sekaligus, maka dikhawatirkan jangkauan guguran material semakin jauh.

Pada 1930, material Merapi (abu) mencapai hingga Pulau Madura. Saat itu Merapi mengalami letusan yang eksplosif. Korban yang tewas pun mencapai 1.359 orang.

”Kalau melihat tanda-tanda Merapi yang belum menunjukkan titik api diam dan kubah, maka kemungkinan letusan yang eksplosif tahun 2010 akan terjadi,” kata Surono yang tampak kuyu karena kurang tidur.

Tetapi, kata dia, dengan banyaknya guguran lava dan kegempaan Merapi, maka diharapkan letusan eksplosif itu tidak terjadi. Ibaratnya, energi sudah habis untuk guguran material, sehingga ketika meletus energinya tinggal sedikit.

Ia menegaskan, energi kegempaan Merapi saat ini lebih besar dibanding energi saat terjadi letusan pada 1997, 2001 dan 2006. Meskipun energi kegempaan lebih besar, belum dapat dipastikan letusannya akan lebih besar dibanding letusan sebelumnya.

“Tanda-tanda untuk dapat menentukan besar-kecilnya letusan tidak pernah dapat dipastikan,” kata Surono.

Ia menambahkan, penyebab belum terlihatnya kubah lava yang baru karena masih ada sumbat lava di permukaan Gunung Merapi.

Menurut Muzani, salah satu staf BPPTK, guguran material akibat aktivitas Gunung Merapi sejak Senin sore lalu juga mengarah ke sisi barat puncak Merapi, bukan hanya sisi selatan saja.

“Kalau kemarin-kemarin hanya mengarah ke selatan, kini guguran material juga mengarah ke barat,” kata dia di ruang monitoring BPPTK. (KJPL)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar