Sabtu, 23 Oktober 2010

500 Tahun Dieksploitasi, Gunung Perak Bolivia Terancam Runtuh

p- Gunung Cerro Rico, kandungan
peraknya merupakan salah satu yang terbesar di dunia, terancam runtuh
sesudah dieksploitasi selama 500 tahun, kata pejabat Bolivia, yang
meminta agar diambil langkah-langkah untuk menyelamatkan situs historis
itu.

"Mirip jam gelas yang perlahan-lahan tenggelam," kata Celestino Condori,
presiden komite sipil Potisi, sebuah organisasi yang didedikasikan
untuk menegakkan cara kerja berkelanjutan akibat penambangan
membabi-buta dengan melubangi gunung itu untuk mendapatkan perak,
tembaga, zinc dan timahnya.

Potisi, pernah menjadi kota terkaya Amerika Selatan oleh tambang perak
di dalam gunung yang besar mengerucut di atasnya, sekarang bahkan lebih
berbahaya bagi para penambang daripada biasanya, akibat longsor reguler
yang dipicu oleh terowongan sepanjang 90 kilometer di dalam raksasa
Cerro Rico atau "Bukit Kaya" itu.

Sekitar 12.000 pekerja tambang masuk ke tambang-tambang itu tiap hari,
termasuk banyak anak dari keluarga yang terhimpit kemiskinan yang menipu
umur agar dapat memperoleh upah harian satu dolar lebih.

Kekayaan besar yang tersembunyi di dalam bukit itu pernah dikatakan
cukup untuk membangun jembatan perak dari kota ini hingga seterusnya
sampai ke Spanyol -- ribuan kilometer jauhnya melewati benua Amerika
Selatan dan Samudera Atlantik.

Proses penambangan tersebut mengambil sekitar 4.300 ton tanah dan
mineral berharga gunung itu setiap hari. Sesudah lima abad pengoperasian
terus menerus, kini terdapat 619 tambang terbuka, termasuk 120 yang
kini masih digunakan, dan jaringan terowongan yang begitu luas.

Longsor, terowongan runtuh, batu berguguran dan keluarnya gas beracun
secara tak terduga telah mengakibatkan 20 penambang tewas sejak awal
2009, menurut Federasi Koperasi Tambang (Fedecomin).

Selasa, seorang penambang berusia 17 tahun tewas setelah menghirup dosis
mematikan karbon monoxida selagi mengumpulkan zinc jauh di dalam lereng
bukit Cerro Rico.

Kematian telah membuat kepala Fedecomin Julio Quinones bertanya: "Apa
yang dilakukan pemerintah " untuk membantu?

Tuntutan demi peraturan keamanan yang lebih baik dan untuk mencegah
semakin memburuknya Cerro Rico berbuah pemogokan sipil 19 hari di Potosi
pada Agustus, yang mendorong pemerintah untuk melakukan studi tentang
bagaimana menyelamatkan gunung tersebut.

Kekecewaan penduduk lokal maupun para pejabat terhadap keengganan
Presiden Evo Morales untuk menegakkan peraturan yang lebih ketat makin
menajam, namun, sejak keberhasilan penyelamatan bulan ini terhadap 33
penambang yang terjebak di negara tetangga, Cile.

Morales memberi sambutan kepahlawanan minggu ini di istana presiden
Quemado di La Paz, bagi

Carlos Mamani, penambang berusia 23 tahun yang terjebak bersama dengan
rekan-rekan warga Cile selama rekor 69 hari.

"Apa yang mengganggu kita," kata Quinones kepada AFP, "adalah bahwa
presiden dapat memobilisasi dengan segera untuk terlibat (dalam cerita
kepahlawanan Cile), namun ketika kecelakaan seperti itu terjadi di
Potosi atau tempat lain di Bolivia, yang banyak runtuhan dengan akibat
tragis, (Morales) tidak pernah terlibat."

Pertambangan menghasilkan pendapatan miliaran dolar bagi Bolivia yang
kaya mineral, namun pemerintah mengambil pendekatan lepas tangan
terhadap simbol kekayaan historis ini, yang beroperasi sejak 1545.

Pertama kali dieksploitasi oleh Inca, tambang itu diambilalih oleh
penjajah Spanyol dan puluhan ribu orang pribumi dan budak Afrika,
kemudian pemerintah Bolivia dan kini perusahaan-perusahaan swasta.

Meskipun penambangan telah belangsung berabad-abad, namun pihak-pihak
berwenang memperkirakan kekayaan berlimpah masih tetap akan ditemukan.

Arnulfo Gutierrez, sekretaris pertambangan departemen Potosi, mengatakan
kepada AFP eksploitasi telah "mengekspose delapan tingkat pada gunung
itu," masing-masing berukuran sekitar 30 meter kedalamannya di dalam
struktur tersebut, namun masih ada "10 tingkat lagi" dengan kandungan
mineral berharga.

"Gunung tersebut besar sekali, dan kekayaannya tak terbilang," katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar