Jakarta – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta para pemimpin dunia lebih terlibat dalam negosiasi perubahan iklim.
Menghadapi Pertemuan Para Pihak (COP-14) Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) di Poznan, Polandia, akhir tahun ini, Presiden SBY mengungkapkan bahwa permasalahan perubahan iklim hanya akan berhasil diatasi bila pemimpin tertinggi semua negara dapat ikut terlibat mendorong proses ini.
Menurut Presiden, proses negosiasi dalam konferensi perubahan iklim merupakan proses yang rumit, sangat kompleks, dan penuh likuliku. Presiden mengharapkan pertemuan Poznan, Polandia dapat mendorong proses negosiasi yang telah dirintis pada Peta Jalan Bali (Bali Roadmap). ”Pengalaman di Bali adalah pengingat yang baik dalam menjembatani kesenjangan posisi sebagaimana mereka telah mengatakan dengan jujur rencana dan pemikiran mereka,”ujar Presiden.
Pernyatan itu disampaikan dalam video conference dengan Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Ban Ki-moon dan para pemimpin Troika, negara Pertemuan Para Pihak UNFCCC, yaitu Perdana Menteri Polandia Donald Tusk dan Perdana Menteri Denmark Anders Fogh Rasmussen di Jakarta kemarin. Saat melakukan video conference yang berlangsung selama hampir satu jam itu Presiden SBY didampingi Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda dan Menteri Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar.
Presiden mengatakan, para pemimpin Troika dan Sekjen PBB memiliki peran penting untuk memastikan keberhasilan negosiasi perubahan iklim.Peran para pemimpin internasional itu akan sangat krusial dalam memecah kebuntuan dan mendorong kemajuan. ”Saya menyarankan, sebelum menuju Poznan kita bisa mempertimbangkan untuk menulis artikel bersama, antara Sekjen PBB dan para pemimpin Troika.
Artikel bersama ini dapat dipublikasikan dalam sebuah publikasi internasional dan di setiap media outlet di negaranegara yang menjadi kunci penting,”papar Presiden. Setelah konferensi perubahan iklim di Bali pada akhir tahun lalu,Kota Poznan di Polandia akan menjadi tempat berlangsungnya konferensi perubahan iklim pada akhir tahun ini. Untuk tahun 2009, konferensi akan dilanjutkan di Kopenhagen,Denmark.
Presiden menegaskan, kunci kesuksesan dalam menyelenggarakan konferensi perubahan iklim sangat bergantung kepada persiapan, komunikasi, dan kepemimpinan yang baik. ”Kita harus memastikan bahwa Poznan memiliki unsur-unsur tersebut,” tandasnya. Kepada para pemimpin Troika dan Sekjen PBB,Presiden menjelaskan bahwa saat negosiasi dimulai pada 2009 hanya akan ada empat putaran, termasuk COP-15 di Kopenhagen.
Menurut Presiden, konsensus global yang baru tidak akan mudah muncul. ”Sekjen PBB dan para pemimpin Troika dapat mengoordinasikan upaya mereka untuk memastikan semua pemimpin terlibat, terutama dalam tahapan negosiasi yang paling penting,”tambahnya. Para pemimpin Troika dan Sekjen PBB juga bisa langsung masuk dalam area kerja sama konkret yang dapat diumumkan saat pertemuan Poznan atau Kopenhagen.Area kerja sama ini bisa meliputi isu strategis, seperti finansial,teknologi serta mekanisme pengurangan emisi lewat deforestasi di negara-negara berkembang.
”Poznan akan menjadi pertemuan terakhir sebelum negosiasi sebenarnya diselenggarakan. Kemudian perjanjian awal dalam shared vision akan bermanfaat untuk memandu negara-negara peserta untuk menyetujui pengurangan emisi gas rumah kaca dalam jangka pendek, menengah, dan panjang,” urainya. Juru Bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal mengatakan, video conference ini adalah salah satu cara penting untuk menyukseskan konferensi di Poznan dan Kopenhagen.
”Dan juga disadari bahwa proses konsultasi antara Sekjen PBB dan pemimpin Troika sekarang ini, termasuk Presiden Indonesia, perlu lebih diaktifkan untuk mencapai tujuan bersama,”katanya. Dino menjelaskan, video conference ini merupakan yang pertama kali dilakukan sejak Konferensi Bali. Idenya, menurut Dino, untuk menjaga agar terjalin konsultasi dan koordinasi yang erat antara Presiden COP-13, COP-14, dan COP-15, agar saat COP-15 di Kopenhagen akan tercapai suatu konsensus global yang baru mengenai perubahan iklim.
”Para pemimpin yang ikut dan video conference ini seluruhnya mengapresiasi hasil dari konferensi perubahan iklim di Bali. Ada concern memang di kalangan para pemimpin, termasuk Presiden sendiri,bahwaprosesnya sejak Bali tersendat-sendat,” katanya. Menurut Dino, Presiden juga mengimbau agar proses ini dapat lebih dipacu momentumnya untuk menjaga agar upaya mengatasi perubahan iklim berada pada jalurnya dan tepat waktu.”Hal ini saya kira juga dirasakan oleh para pemimpin lain,”tambahnya.
Menurut Dino, dalam video conference yang dilakukan, menghasilkan banyak ide-ide baru yang diharapkan dapat memasukkan momentum baru pada proses mengatasi perubahan iklim yang saat ini masih terus ditempa. (KJPL)
Menghadapi Pertemuan Para Pihak (COP-14) Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) di Poznan, Polandia, akhir tahun ini, Presiden SBY mengungkapkan bahwa permasalahan perubahan iklim hanya akan berhasil diatasi bila pemimpin tertinggi semua negara dapat ikut terlibat mendorong proses ini.
Menurut Presiden, proses negosiasi dalam konferensi perubahan iklim merupakan proses yang rumit, sangat kompleks, dan penuh likuliku. Presiden mengharapkan pertemuan Poznan, Polandia dapat mendorong proses negosiasi yang telah dirintis pada Peta Jalan Bali (Bali Roadmap). ”Pengalaman di Bali adalah pengingat yang baik dalam menjembatani kesenjangan posisi sebagaimana mereka telah mengatakan dengan jujur rencana dan pemikiran mereka,”ujar Presiden.
Pernyatan itu disampaikan dalam video conference dengan Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBB Ban Ki-moon dan para pemimpin Troika, negara Pertemuan Para Pihak UNFCCC, yaitu Perdana Menteri Polandia Donald Tusk dan Perdana Menteri Denmark Anders Fogh Rasmussen di Jakarta kemarin. Saat melakukan video conference yang berlangsung selama hampir satu jam itu Presiden SBY didampingi Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda dan Menteri Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar.
Presiden mengatakan, para pemimpin Troika dan Sekjen PBB memiliki peran penting untuk memastikan keberhasilan negosiasi perubahan iklim.Peran para pemimpin internasional itu akan sangat krusial dalam memecah kebuntuan dan mendorong kemajuan. ”Saya menyarankan, sebelum menuju Poznan kita bisa mempertimbangkan untuk menulis artikel bersama, antara Sekjen PBB dan para pemimpin Troika.
Artikel bersama ini dapat dipublikasikan dalam sebuah publikasi internasional dan di setiap media outlet di negaranegara yang menjadi kunci penting,”papar Presiden. Setelah konferensi perubahan iklim di Bali pada akhir tahun lalu,Kota Poznan di Polandia akan menjadi tempat berlangsungnya konferensi perubahan iklim pada akhir tahun ini. Untuk tahun 2009, konferensi akan dilanjutkan di Kopenhagen,Denmark.
Presiden menegaskan, kunci kesuksesan dalam menyelenggarakan konferensi perubahan iklim sangat bergantung kepada persiapan, komunikasi, dan kepemimpinan yang baik. ”Kita harus memastikan bahwa Poznan memiliki unsur-unsur tersebut,” tandasnya. Kepada para pemimpin Troika dan Sekjen PBB,Presiden menjelaskan bahwa saat negosiasi dimulai pada 2009 hanya akan ada empat putaran, termasuk COP-15 di Kopenhagen.
Menurut Presiden, konsensus global yang baru tidak akan mudah muncul. ”Sekjen PBB dan para pemimpin Troika dapat mengoordinasikan upaya mereka untuk memastikan semua pemimpin terlibat, terutama dalam tahapan negosiasi yang paling penting,”tambahnya. Para pemimpin Troika dan Sekjen PBB juga bisa langsung masuk dalam area kerja sama konkret yang dapat diumumkan saat pertemuan Poznan atau Kopenhagen.Area kerja sama ini bisa meliputi isu strategis, seperti finansial,teknologi serta mekanisme pengurangan emisi lewat deforestasi di negara-negara berkembang.
”Poznan akan menjadi pertemuan terakhir sebelum negosiasi sebenarnya diselenggarakan. Kemudian perjanjian awal dalam shared vision akan bermanfaat untuk memandu negara-negara peserta untuk menyetujui pengurangan emisi gas rumah kaca dalam jangka pendek, menengah, dan panjang,” urainya. Juru Bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal mengatakan, video conference ini adalah salah satu cara penting untuk menyukseskan konferensi di Poznan dan Kopenhagen.
”Dan juga disadari bahwa proses konsultasi antara Sekjen PBB dan pemimpin Troika sekarang ini, termasuk Presiden Indonesia, perlu lebih diaktifkan untuk mencapai tujuan bersama,”katanya. Dino menjelaskan, video conference ini merupakan yang pertama kali dilakukan sejak Konferensi Bali. Idenya, menurut Dino, untuk menjaga agar terjalin konsultasi dan koordinasi yang erat antara Presiden COP-13, COP-14, dan COP-15, agar saat COP-15 di Kopenhagen akan tercapai suatu konsensus global yang baru mengenai perubahan iklim.
”Para pemimpin yang ikut dan video conference ini seluruhnya mengapresiasi hasil dari konferensi perubahan iklim di Bali. Ada concern memang di kalangan para pemimpin, termasuk Presiden sendiri,bahwaprosesnya sejak Bali tersendat-sendat,” katanya. Menurut Dino, Presiden juga mengimbau agar proses ini dapat lebih dipacu momentumnya untuk menjaga agar upaya mengatasi perubahan iklim berada pada jalurnya dan tepat waktu.”Hal ini saya kira juga dirasakan oleh para pemimpin lain,”tambahnya.
Menurut Dino, dalam video conference yang dilakukan, menghasilkan banyak ide-ide baru yang diharapkan dapat memasukkan momentum baru pada proses mengatasi perubahan iklim yang saat ini masih terus ditempa. (KJPL)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar